Marketing Politik : Publik Apatis Pada Parpol di Indonesia

Posted: 27 April 2010 in Uncategorized

Proses reformasi politik selama ini telah melahirkan kebebasan masyarakat untuk mendirikan partai politik. Maka dalam dua kali pemilu pun, jumlah partai politik bak cendawan di musim hujan.

Namun, dalam waktu bersamaan mereka tidak memiliki identifikasi atau pembeda yang jelas antara satu parpol dengan parpol lainnya. Baik dalam bentuk program maupun cara penyelesaian masalah kebangsaan, sehingga ujung-ujungnya dapat dibilang parpol kini makin kehilangan ideologi.

“Ideologi masih di atas kertas, tidak ada dalam praktik riil,” tegas Firmanzah, Deputy Secretaris Program Pascasarjana Ilmu Manajemen UI, kepada INILAH.COM.

Menurut penulis buku Mengelola Partai Politik dan Marketing Partai Politik ini, banyaknya partai politik sama sekali tidak menunjukkan alternatif pilihan publik. “Tidak ada pembeda yang jelas antara parpol A dengan Parpol B,” jelasnya.

Kondisi ekstrim ini, menurut Firmanzah, akan berimplikasi pada apatisme publik terhadap keberadaan partai politik. Akibat lanjutnya, mereka enggan menggunakan hak pilihnya dalam pemilu alias golongan putih. Bagaimana implikasinya dalam Pemuli 2009, berikut ini petikan wawancara lengkapnya:

Apa urgensi ideologi partai politik terhadap eksistensi sebuah parpol?

Ketidakjelasan ideologi parpol akan membingungkan masyarakat. Coba bandingkan saja antara PDIP, Partai Golkar, dan Partai Demokrat. Apa yang membedakan partai-partai tersebut? Kecuali yang satu oposan dan yang satu berkuasa. Kecuali yang satu ketua umumnya Megawati dan yang satu ketua umumnya Jusuf Kalla.

Problem mereka juga sama. Sehingga masyarakat yang akan memilih dan memihak ke partai mana dalam Pemilu 2009 juga akan bingung.

Atas kebingungan masyarakat, secara ekstrim apa dampaknya bagi partai politik?

Golput. Publik akan apatis. Bayangkan saja, publik dihadapkan pada pilihan puluhan partai politik dan kita susah membedakan satu sama lainnya. Maka ini akan berdampak pada apatisme. Tidak ada ikatan emosional masyarakat terhadap partai politik.

Saat ini masyarakat melihat partai politik semua sama. Seperti dalam bentuk koalisi di pilkada. Di Banten misalnya, Golkar dan PKS berkoalisi, namun di tempat lainnya Golkar dan PKS saling berhadap-hadapan. Bahkan PKS dan PDS bisa bertemu. Masyarakat bingung atas hal ini, mau ke mana partai politik kita?

Dalam survei yang kami lakukan di delapan kota, 60% dari mereka melihat parpol tidak berkontribusi apa pun dalam 25 isu penting, seperti pemberantasan KKN, penegakan hukum, peningkatan kesejahteraan rakyat, maupun pengentasan kemiskinan. Ini kan mengkhawatirkan. Harusnya parpol mengakar di masyarakat, sehingga dibutuhkan masyarakat. Sayangnnya, saat ini masyarakat apatis terhadap parpol.

Ini juga terpengaruh oleh ketidakdewasaan politisi kita. Misalnya ada kader yang kalah dalam kongres parpol tertentu, ia akan mendirikan partai baru. Coba bayangkan bagaimana psikologis masyarakat melihat para elit yang berkumpul hanya memposisikan parpol sebagai kendaraan politiknya. Relevansinya juga tidak jelas dalam kehidupan masyarakat.

Artinya aksi yang selama ini dilakukan parpol dan parlemen menjadi tidak bermakna karena ketiadaan ideologi parpol?

Persoalannya semua orang berbicara masalah yang sama. Seperti isu pemberantasan korupsi, bagaimana formatnya? Harusnya antarparpol menawarkan solusi yang berbeda, sehingga publik dengan mudah mengidentifikasi program dan solusi terbaik yang diajukan parpol.

Apakah ini juga implikasi dari sistem multipartai?

Ya. Selain itu juga implikasi dari ketidaksiapan para elit parpol kita.

Misalnya parpol kita cukup minim di kisaran 3-5 partai politik, apakah ini akan mengkondisikan kejelasan ideologi partai politik?

Bukan jaminan juga. Kalau kita masih menerapkan oligarkhi politik, ya sama saja. Masalahnya, masyarakat diberi alternatif pilihan atau tidak? Kalau misalnya tiga partai namun yang terjadi adalah elitisme dalam berpartai, ya hasilnya sama saja. Jadi pendewasaan elit yang dibutuhkan.

Bagaimana dengan hasil Pemilu 2009 mendatang, apakah masih belum beranjak dari ketidakjelasan ideologi parpol kita?

Belum jelas. Semua orang berbicara isu populis, namun how-nya masih belum ada.

Bagaimana kita bisa merekayasa untuk mendesain ideologi parpol?

Dalam asas partai politik, itu semua ada. Namun belum direpresentasikan dalam aksi politik yang jelas. Misalnya PDIP sebagai partai wong cilik, mestinya harus konsisten untuk memberantas kemiskinan dengan program kredit bagi usaha mikro. Sayangnya yang ada kini adalah parpol berlomba-lomba menayangkan iklan politik yang tidak jelas orientasinya. Memang bagus, tapi itu kurang efektif.

Apakah ini karena 60% dari jumlah pemilih kita adalah kelompok marjinal?

Ya. Selain itu juga karena parpol tidak berupaya mencerdaskan pemilihnya. Malah kondisi demikian dirawat, agar pemilih mudah dibohongi oleh parpol.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s