Sex Pranikah ??? ya atau tidak

Posted: 27 April 2010 in Uncategorized

Sex pranikah nampaknya menjadi sesuatu yang permisif dewasa ini. Banyak remaja dan kaum dewasa yang tak malu-malu lagi melakukan hubungan badan walaupun belum terikat pernikahan. Padahal ada banyak konsekuensi yang menanti ketika melakukan sex pranikah.
Jika menilik kasus tersebut, tentu yang menjadi pertanyaan, fenomena apa yang sebenarnya terjadi di kalangan remaja. Didikan orangtua dan agama juga menjadi kunci dari permasalahan tersebut. Terlepas dari kedua faktor di atas, bagaimana bila keduanya baik pria maupun wanita yang sedang dimabuk asmara memang berniat untuk melakukanya? Yang pasti, pertanyaan siap atau tidak, seseorang berhubungan sex tentu juga menjadi tanda tanya yang harus dijawab.

Siap melakukan hubungan intim merupakan konsep yang sederhana, secara khusus karena setelah melakukannya -sekali atau barangkali lebih dari itu – tidak menjadi jaminan bahwa Kita siap untuk melakukannya atau bahwa Kita sudah siap melakukanya lagi. Pasalnya, faktanya, banyak gadis, setelah mereka bercinta dan menyesalinya, baru menyadari betapa tidak siapnya mereka. Tentu saja siap bukan dalam arti secara fisik saja akan tetapi juga mental.
Untuk mengetahui siap atau tidaknya Kita berhubungan sex, sedikit banyak bisa dilihat dari jawaban-jawaban Kita mengenai pertanyaan tentang beberapa hal berikut ini:
* Jika dia tidak memaksa untuk melakukannya, apakah saya tetap masih menginginkannya?
* Jika dia tidak menjadikan masalah ini sebagai sesuatu yang serius dalam hubungan kami, apakah saya tetap menginginkannya?
* Apakah saya bisa menerima bila ternyata akhirnya hamil?
* Apakah saya mempersiapkan segalanya agar tidak hamil?
* Apakah saya siap bila akhirnya mengidap penyakit kelamin atau AIDS sekalipun?
* Apakah saya merasa bersalah setelah melakukan hal tersebut yang nyata-nyata jauh dari norma agama?
* Patutkah saya berbicara tentang hal ini di usia yang belum bisa dibilang matang?
* Bagaimana pertanggungjawaban dengan orangtua, masyarakat dan Tuhan?
* Apakah saya suka bermesraan ketika sedang mabuk atau menggunakan obat-obatan terlarang?
Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang harus Kita jawab secara jujur. Jika banyak jawaban dari pertanyaan di atas adalah “Ya”, maka memang Kita sudah merasa siap. Akan tetapi patutnya, beberapa pertanyaan tersebut dijawab dengan kata “Tidak”.
Tak hanya pertanyaan tersebut, masih banyak masalah lain yang perlu dipertimbangkan sebelum Kita memastikan diri siap melakukan hubungan intim di luar pernikahan. Misalnya saja:
Kehilangan keperawanan merupakan suatu peristiwa yang akan Kita ingat untuk selama-lamanya. Kehilangan keperawanan sebelum menikah bukanlah sebuah pengalaman yang paling sempurna. Bukan pula sebuah kejadian besar yang harus menjadi topik dalam setiap perbincangan.
Sesungguhnya bukan suatu keputusan yang mudah untuk menentukan seberapa jauh Kita akan melangkah ketika Kita sudah siap untuk melakukan segalanya. Dan alangkah baiknya untuk memberi banyak kesempatan kepada diri sendiri karena sex akan menghasilkan momentum-momentum seiring bergulirnya waktu dimana batas-batas yang telah Kita tetapkan semakin kabur dalam pergulatan nafsu yang sedang menggelayuti Kita. Jadi apa yang tampaknya tidak masalah pada saat itu bisa menjadi sesuatu yang menyakitkan diri Kita beberapa hari kemudian.
Sex antara dua orang dewasa yang siap menghadapi semua resiko dan penghargaan yang mungkin terjadi memang sesuatu yang mengasyikan baik secara emosional dan fisik. Bila tidak, tak mungkin ada orang yang akan sudi melakukannya. Tapi bercinta bisa membuat Kita merasa benar-benar tercampakkan jika Kita menyesalinya di kemudian hari atau jika Kita mengira Kita berada dalam suatu hubungan yang sudah berjalan lama dan semuanya berubah seratus delapan puluh derajat karena tiba-tiba ia sudah meninggalkan Kita.
So, dari semua yang terpenting adalah sikap dan tanggung jawab Kita secara moral dengan segala hal yang Kita lakukan. Namun ada baiknya untuk berpikir berulang kali untuk memutuskan suatu hal. Dan yang pastinya lebih baik melakukan hubungan seksual dengan pasangan resmi dalam sebuah lembaga perkawinan yang sudah secara sah diakui agama dan hukum.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s