Perilaku Pemilih di Indonesia

Posted: 3 September 2010 in Uncategorized

Pada tahun 2009, negara Indonesia telah melangsungkan pemilihan umum. Budiarjo (2008) menyatakan bahwa pemilihan umum dianggap sebagai lambang, dan juga sekaligus tolak ukur dari sistem demokrasi. Indonesia pertama kali melaksanakan pemilu pada tahun 1955, dan hingga tahun 2009, Indonesia telah melaksanakan sembilan pemilu. Tercatat Indonesia melaksanakan pemilu pada tahun 1955, 1971, 1977, 1982, 1987, 1982, 1992, 1999, dan yang terakhir pada tahun 2004. Pada pemilu yang terakhir, yaitu pemilu tahun 2004, Indonesia membuat sejarah, karena untuk pertama kalinya diadakan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden secara langsung. Bila pada tahun-tahun sebelumnya Presiden dan Wakil Presiden dipilih oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), pada tahun 2004, untuk pertama kalinya, rakyat Indonesia memilih secara langsung Presiden dan Wakil Presidennya.

Sebenarnya, pada tahun 2004, tidak hanya Presiden dan Wakil Presiden yang dipilih langsung, tetapi untuk pertama kalinya juga, rakyat Indonesia memilih langsung anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan juga anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Pada pemilu-pemilu sebelum tahun 2004, untuk menentukan anggota DPR, pemilih hanya memilih PARPOL saja. Lalu, PARPOL yang akan menentukan siapa-siapa saja yang akan menjabat sebagai anggota DPR. Namun, pada tahun 2004, pemilih tidak hanya bisa memilih parpol, tetapi juga bisa langsung memilih orang per orang. Adanya perubahan sistem pada pemilu tahun 2004 mempunyai konsekuensi terhadap perubahan perilaku pemilih juga. Jika sebelumnya, para pemilih hanya memperhatikan parpol saja, dengan adanya perubahan sistem ini, para pemilih juga bisa memperhatikan orang-orang yang dicalonkan oleh parpol tersebut.

Penelitian mengenai perilaku memilih (voting behavior) pertama kali dilakukan oleh para peneliti dari Universitas Columbia, yang lalu dikenal dengan sebutan mazhab Columbia atau Columbia School. Menurut model Columbia ini, perilaku memilih ditentukan oleh status sosial ekonomi (SSE), agama dan daerah tempat tinggal. Jadi, jika seseorang berada di SSE tertentu, berarti ia memilih parpol tertentu. Jika ia beragama tertentu, ia akan memilih parpol tertentu. Dan, jika ia tinggal di daerah tertentu, ia maka akan memilih parpol tertentu. Mazhab ini juga dikenal dengan nama pendekatan sosiologis atau sosial struktural (Lawrence, 2003; Redlawsk, 1997; & Roth, 2008).

Setelah pendekatan sosiologis, kemudian muncul pendekatan sosial psikologis yang dilakukan oleh para peneliti dari University of Michigan. Berbeda dengan pendekatan sebelumnya yang lebih menekankan pada faktor kelompok sosial dimana individu berada (sosiologis), pada pendekatan sosial psikologis penekanan lebih pada individu itu sendiri. Menurut pendekatan sosial psikologis, ada tiga faktor yang berpengaruh terhadap perilaku memilih. Tiga faktor tersebut adalah identifikasi partai, orientasi isu atau tema dan orientasi kandidat. Identifikasi partai yang dimaksud disini adalah bukan sekedar partai apa yang dipilih tetapi juga tingkat identifikasi individu terhadap partai tersebut misalnya, lemah hingga kuat. Lalu, yang dimaksud dengan orientasi isu atau tema adalah tema atau isu-isu apa saja yang diangkat oleh parpol tersebut. Sedangkan, yang dimaksud orientasi kandidat adalah siapa yang mewakili parpol tersebut. Menurut pendekatan sosial psikologis, tiga faktor itulah (identifikasi partai, orientasi tema dan orientasi kandidat) yang akan menentukan perilaku memilih (Lawrence, 2003; Redlawsk, 1997; & Roth, 2008). Lalu, setelah pendekatan sosial psikologis, muncul pendekatan baru yang dinamakan dengan pendekatan ekonomis. Pendekatan ekonomis biasa juga disebut dengan pendekatan rational-choice. Berdasarkan pendekatan ini, manusia diasumsikan adalah seorang pemilih yang rasional. Individu mengantisipasi setiap konsekuensi yang mungkin muncul dari pilihan-pilihan yang ada. Lalu, dari pilihan-pilihan tersebut, individu akan memilih pilihan yang memberi keuntungan paling besar bagi dirinya (Lawrence, 2003; Redlawsk, 1997; & Roth, 2008). Berhubungan dengan pemilu, melalui pendekatan ini, pemilih diasumsikan mempertimbangkan segala pilihan yang ada, misalnya tiap-tiap parpol yang ada, tiap-tiap kandidat yang ada dan tiap-tiap kebijakan yang ada. Lalu, dilihat untung atau ruginya bagi individu. Pada akhirnya individu akan memilih yang memberi keuntungan paling besar dan kerugian paling kecil bagi dirinya. Namun pada kenyataannya, ketika mengambil keputusan, individu jarang sekali melakukan hal-hal yang diasumsikan oleh pendekatan ekonomis. Berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan menyebutkan bahwa, biasanya individu tidak mengetahui setiap alternatif yang ada dan juga tidak mempertimbangkan setiap hasil yang mungkin muncul dari setiap alternatif. Oleh karena itu, setelah pendekatan ekonomis, muncul lagi pendekatan baru dalam melihat perilaku memilih. Pendekatan tersebut adalah pendekatan behavioral decision theory (BDT) Lau ( 2003) & Redlawsk (2006).

Pendekatan behavioral decision theory (BDT) mengasumsikan bahwa individu sebagai limited information processors,  Pendekatan ini menganggap bahwa jumlah informasi yang dapat diolah oleh individu, sangat terbatas. Keterbatasan individu dalam memproses jumlah informasi, biasa juga disebut bounded rationality. Menurut pendekatan ini, sebagai mahkluk rasional kognisi individu masih memiliki beberapa keterbatasan. Keterbatasan-keterbatasan tersebut diantaranya adalah keterbatasan dalam menyimpan jumlah informasi, keterbatasan dalam mengolah informasi dan keterbatasan dalam memanggil kembali informasi yang telah diolah (Lau, 2003; Lau & Redlawsk, 2006).

Meskipun sebenarnya individu tidak bisa melakukan pengambilan keputusan yang benar-benar rasional, seperti yang diasumsikan oleh pendekatan ekonomis, di tengah-tengah keterbatasannya tiap-tiap individu masih bisa membuat keputusan yang baik. Hal tersebut dimungkinkan karena individu mengembangkan sejumlah mekanisme kognitif untuk mengatasi keterbatasannya itu. Terkait dengan pemilu, ada tiga mekanisme kognitif yang biasanya digunakan oleh individu, yaitu decomposition, editing dan heuristics Lau (2003) & Redlawsk (2006). Decomposition berarti individu memecah keputusannya menjadi beberapa bagian yang lebih kecil. Mekanisme ini biasanya lebih dilakukan oleh para kandidat atau parpol yang sedang bertarung di pemilu. Misalnya, para kandidat membagi strategi kampanyenya menjadi beberapa bagian. Ada yang khusus iklan di televisi, ada yang khusus di radio, ada yang khusus penampilan, dan seterusnya. Sementara itu, yang dimaksud dengan editing berarti, ketika individu menyederhanakan pengambilan keputusannya dengan menghilangkan atau menghiraukan aspek-aspek relevan yang berhubungan dengan keputusannya tersebut. Misalnya dengan hanya memperhatikan satu kandidat saja dan menghiraukan kandidat yang lainnya. Sedangkan yang dimaksud dengan heuristics adalah jalan pintas kognitif (cognitive shortcuts) yang dilakukan oleh individu untuk membuat keputusan atau penilaian tertentu, yang biasanya didasarkan pada rules of thumb. Baron, Branscombe dan Byrne (2008) menjelaskan bahwa heuristics adalah cara mudah untuk mencapai keputusan yang kompleks atau membuat kesimpulan, dalam waktu yang singkat dan efisien. Bless, Fiedler, dan Strack (2004) juga menyebutkan bahwa untuk mengatasi kompleksitas, individu mengembangkan stategi tambahan yang mengijinkan mereka untuk mempermudah pengambilan-keputusan dengan berpegang pada rules of thumb, dan proses itu disebut heuristics.

Hamilton (2005) menyebutkan bahwa heuristics biasa digunakan dalam membuat keputusan dan dapat meringankan beban yang dialami oleh kognisi individu, tidak hanya membantu individu dalam kehidupan sehari-hari, heuristics juga dapat digunakan individu dalam kehidupan politik. Ottati (1990) menemukan bahwa heuristics bisa juga digunakan saat membuat keputusan politik. Hal ini juga disebutkan oleh Mondak (1994) bahwa dengan menggunakan heuristics dapat membantu individu untuk mengatasi hambatan-hambatan yang diakibatkan terbatasnya pengetahuan tentang politik.

Ada lima jenis heuristics yang bisa digunakan individu untuk membantu dirinya dalam mengambil keputusan dalam politik, khususnya pada saat pemilu (perilaku memilih).  Menurut Lau (2003) & Redlawsk, (2006), lima jenis heuristics tersebut akan dijelaskan lebih lanjut sebagai berikut:

  1. Affect referral: individu akan memilih kandidat yang paling menarik secara emosional atau yang lebih disukainya (emosional).
  2. Endorsement: individu akan memilih kandidat berdasarkan hasil rekomendasi dari kerabat dekat, elit politik yang terpercaya, ataupun kelompok-kelompok sosial yang dimiliki oleh individu. Dengan kata lain, individu membiarkan orang lain diluar dirinya yang memutuskan pilihannya.
  3. Familiarity: individu memilih kandidat yang telah dikenal atau yang telah diketahui sebelumnya.
  4. Habit: individu memilih kandidat berdasarkan pilihan pada pemilu sebelumnya dan tetap pada pilihannya itu.
  5. Viability: individu memilih kandidat yang mempunyai peluang menang lebih besar.

Jadi,  termasuk pemilih jenis manakah anda?

Pemilih sosiologis? Pemilih ekonomis? Pemilih rasional? Atau pemilih jenis yang lain?

Apapun jenisnya, mudah-mudahan pilihan anda, mengutip perkataan Bung Anies Baswedan, dapat mewujudkan dan melunasi janji-janji kemerdekaan seperti yang tertulis di Pembukaan Undang-undang Dasar 1945.

Komentar
  1. Serena Serenta mengatakan:

    Masyarakat Pemilih Yang Miskin Dan Lapar,Pasti Akan Memilih Pemimpin Yang Mempunyai Type Santa Claus Yang Suka Bagi-Bagi: Beras Ikan,Garam,Gula,Super Mie,Sabun Rica,Tomat, Sekolah Gratis,Bea Siswa,Kue Pada Setiap Kampanya,Bukan Pemimpin Yang Bagi-Bagi Program Yang Diluar Logika Mereka.Merekalah Masyarakat Pemilih Yang Rational.Mereka Orang Kecil Tapi Mereka Banyak Dan Menentukan Arah Negeri Ini.

  2. uyab87 mengatakan:

    cukup mencerahkan tulisan dari kakak ini…. semoga dengan semakin dewasanya parpol dalam berpolitik memberikan balasan setimpal kepada masyarakat yg telah memilihnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s